SOKRATES DARI BUKU PIJAR FILSAFAT YUNANI KUNO OLEH SANDI HERDIAN SUSANTO

                                                                          https://pin.it/2CpbhrF
                                                                               

PANDANGAN ETIKA SOKRATIK

Perioda selama Sokrates hidup seringkali dikatakan oleh sejarawan sebagai zaman keemasan Athena. Pada tahun 480 SM, Bangsa Yunani telah mengalahkan Bangsa Persia secara meyakinkan pada Pertempuran Salamis. Karenanya pada perioda tersebut, situasi Athena dilimpahi kemakmuran, dan perdamaian, hingga akhirnya melahirkan kultur adiluhung yang dapat kita lihat pada karya – karya seni dari periode tersebut, suatu masa yang belum pernah dirasakan oleh Bangsa Yunani sebelumnya. Pada perioda keemasan inilah sosok Sokrates muncul di tengah – tengah publik Yunani, dan pada perioda ini juga Sokrates dihukum mati.

Sokrates terlahir pada sekitar tahun 470 SM. Ayahnya, Sophroniskos merupakan seorang pematung, sedangkan ibunya, Phaenarete berprofesi sebagai dukun beranak. Pada masa mudanya, Sokrates sempat berkeinginan untuk meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai pematung. Sokrates menikah dengan Xanthippe, yang kerap kali digambarkan sebagai seorang perempuan yang cerewet. Melalui pernikahannya, Sokrates dikaruniai tiga orang putera, Lamprokles; Sophorniskos; dan Menexos. Sokrates dapat dikatakan bukanlah figur ayah, dan suami yang ideal, karena kesibukannya untuk mencari kebijaksanaan, ia kerapkali mengabaikan kesejahteraan finansial keluarganya.

Formasi pendidikan filsafat Sokrates didapatkan dari Anaxagoras, yang mana merupakan salah satu filsuf Yunani awal yang ternama. Pada awalnya Sokrates berminat untuk mendalami kosmologi (studi tentang keteraturan semesta), akan tetapi pada akhirnya ia meninggalkan fokusnya pada bidang kosmologi dalam rangka menceburkan diri sepenuhnya ke bidang etika. Ia mengklaim dirinya kemudian sebagai ‘lalat pengusik’ yang memprovokasi publik Athena untuk menyadari bahwa mereka tidak mengetahui bahwa landasan moral yang mereka gunakan lemah. Metode dialektika yang dikembangkan Sokrates ini terang tidak disukai oleh kebanyakaan warga Athena, hingga akhirnya Sokrates berikhtiar untuk mengembangkan metode dialektikanya dalam rangka mendidik kaum muda idealis Athena sebagai muridnya. Adalah Platon, misalnya, pemuda aristokrat tinggi yang menjadi murid setianya, yang kelak dikemudian hari mengembangkan lebih jauh filsafat Sokrates. Pengaruhnya dikalangan kaum muda idealis Athena segera mendatangkan murka bagi para petinggi politik di sana. Pada tahun 399 SM, Sokrates diajukan ke pengadilan polis karena dianggap bertindak subversif dengan tuduhan proliferasi paham atheisme, dan dianggap menginsinuasi kaum muda Athena dengan pengaruh buruk (diajarkan untuk mempertanyakan segalanya).

SOKRATES DAN KARYA – KARYANYA

Penting untuk diingat, bahwa Sokrates tidak pernah menuliskan karyanya sendiri. Hampir seluruh pengetahuan kita tentang hidup, dan karyanya didapatkan dari kesaksian – kesaksian catatan orang yang hidup sezaman dengan Sokrates, utamanya, Platon; Xenophon; dan Aristophanes. Salah satu hal yang membuat kita merekonstruksi pemikiran, dan kisah hidup Sokrates adalah karena kerap kali ditemukan kontradiksi pada catatan – catatan tentangnya. Dalam Nephelai (Awan – Awan), misalkan Aristophanes menggambarkan sosok Sokrates sebagai sofis yang begitu buruk moralitasnya, dan seorang atheis. Sedangkan di lain sisi, Platon, dan Xenophon menggambarkan Sokrates sebagai sosok layaknya santo, dan martir.

Kesulitan lainnya dalam merekonstruksi pemikiran filsafat Sokrates adalah bahwa sumber terpercaya yang kita ketahui tentang pemikiran filsafatnya adalah dialog – dialog Platon, yang mana Platon sering menggunakan tokoh Sokrates untuk menjelaskan konsep filsafat yang memang berasal dari Sokrates sendiri, dan juga konsep – konsep dari Platon sendiri.

Kita harus jeli dalam membedakan mana Sokrates historis, dan mana Sokrates fiksi dalam karakter Sokrates yang digambarkan dalam beberapa karya orang – orang lain. Kebanyakan peneliti mengatakan, bahwa Sokrates yang dihadirkan dalam dialog – dialog awal Platon (Euthuphrōn, Crito, dan Apologia) sangatlah mirip dengan Sokrates historis. Tokoh Sokrates dalam dialog – dialog tersebutlah yang biasanya menjadi acuan jika kita ingin mempelajari pemikiran filsafatnya.

KETIDAKTAHUAN DAN IRONI SOKRATIK

Dalam Apologia, pemikiran filsafat Sokrates diilustrasikan dalam bentuk dialog – dialog. Ketika itu, seorang teman Sokrates, Khaerephon pergi ke Kuil Apollo di Delphi, dan bertanya kepada orakel di sana tentang, adakah seorang yang lebih bijaksana dari Sokrates. Orakel tersebut bertanya kepada Apollo, yang menjawab tidak ada orang yang lebih bijaksana daripada Sokrates. Ketika mendengar cerita ini, Sokrates mengunjungi orang – orang yang terkenal bijak di Athena, politisi; penyair; dan pengerajin. Yang ia dapatkan dari penelusuran itu adalah fakta, bahwa mereka yang mengklaim diri mereka bijaksana, ternyata hanya memiliki sedikit kebijaksanaan. Sokrates menyimpulkan, bahwa perkataan orakel tersebut benar adanya, bahwa ia lebih bijaksana ketimbang massa rakyat kebanyakan, karena ia tahu bahwa ia tidak tahu apa – apa, sedangkan orang lain tidak.

Hal ini mengafirmasi langkah awal Sokrates dalam berfilsafat, yaitu ketidaktahuan. Dalam dialog – dialog awal Platon, Sokrates selalu mendefinisikan dirinya sebagai seorang yang tidak tahu tentang topik yang ia diskusikan, karenanya dia bertanya kepada orang lain. Menghadapi sosok seperti ini kita akan dilanda kebingungan, sosok seperti apakah Sokrates sesungguhnya? Sosok yang mengafirmasi ketidaktahuan menjadi sebentuk relativisme (kepercayaan bahwa tidak terdapat kebenaran objektif), dan/atau skeptisisme (kepercayaan bahwa kebenaran sesungguhnya tidak dapat diketahui); ataukah Sokrates memang membutuhkan jawaban dari pihak yang ditanya. Sokrates sering kali disebut sebagai seorang yang ironis, dan metode dialektikanya juga kerap disebut sebagai intellectual gimmick, apa pasal? Sokrates umumnya berpura – pura tidak tahu ketika menanyakan suatu topik kepada orang lain, agar orang lain tersebut membuat klaim moral, lalu Sokrates menunjukkan cacat – cacat dalam klaim moral lawan bicaranya, dan akhirnya Sokrates menunjukkan betapa sedikit pengetahuan lawan bicaranya tentang topik yang didiskusikan.

METODE BERFILSAFAT SOKRATES

Dalam dialog – dialog awal Platon, metode argumentasi yang digunakan Sokrates dikenal dengan istilah elenchos (examination), yang terjemahan bebasnya dapat dikatakan sebagai pengujian. Dalam dialog – dialog tersebut, kita jarang menemukan Sokrates yang mengajar, atau menjawab secara langsung pertanyaan yang diajukan lawan bicaranya, malahan kita menemukan bahwa Sokrates seringkali mengajukan pertanyaan – pertanyaan kepada lawan bicaranya untuk menuntun secara tidak langsung kepada kebenaran.

Umumnya Sokrates akan mengajukan pertanyaan pada seseorang yang mengaku dirinya/dianggap bijaksana, lalu mempertanyakan topik terkait moralitas, misalnya landasan kesalehan; persahabatan; dan/atau keadilan. Kemudian Sokrates akan mulai menunjukkan, bahwa definisi yang diberikan lawan bicaranya tidak memadai, atau bahkan penuh kontradiksi. Hal ini mengarahkan lawan bicaranya untuk menjawab dengan definisi – definisi lainnya, yang mana lebih memadai (lebih rasional), yang juga nantinya akan dipermasalahkan kembali oleh Sokrates. Hampir seluruh dialog – dialog awal Platon berakhir tanpa kesimpulan, dengan lawan bicara yang diinterogasi oleh Sokrates.

Jadi, apakah kegunaan dari metode elenchos, jika setelah dihujani pertanyaan oleh Sokrates, lawan bicaranya menjadi lebih bingung ketimbang awal percakapan? Metode Sokratik ini mempunyai sisi negatif, dan positifnya. Sisi negatifnya, Sokrates memojokkan lawan bicara, menelanjangi argumennya, hingga argumen lawan bicaranya tidak dapat dipertahankan. Sisi positifnya, adalah dengan menggunakan metode elenchos, Sokrates mencoba memurnikan seluruh konsep moralitas, hingga akhirnya mendekati eidos (definisi universal), yang dapat kita gunakan sebagai pengetahuan moralitas yang pasti. Ketika kita berpengetahuan pasti ini, diandaikan oleh Sokrates dengan sendirinya kita akan berbahagia.

KEUTAMAAN ADALAH PENGETAHUAN

Tema pokok metode filsafat Sokrates selalu berhubungan dengan etika. Sokrates berkeyakinan, ketika seseorang berpengetahuan tentang ‘kebaikan’, maka dengan sendirinya ia akan berbuat baik. Begitu juga dengan tema – tema moralitas lainnya, ketika seseorang mengetahui maksud dari ‘keberanian’; ‘mawas – diri’; ‘keadilan’, maka secara otomatis ia akan berkelakuan seperti itu.

Konsekuensinya, seluruh kejatahatan dalam cakrawala pemikiran Sokrates pastilah disebabkan oleh ketidaktahuan. Menurut Sokrates, tidak seorangpun yang berpengetahuan salah, melakukan hal benar. Dapatkah kita membayangkan seseorang berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan merupakan kesalahan, dan kejahatan, akan tetapi saya tetap melakukannya.”? Dalam keseharian, kita seringkali menemukan seorang yang melakukan tindak kejahatan, berpikir bahwa apa yang dilakukannya merupakan suatu kebaikan.

Sokrates tidak akan pernah menerima pendapat yang oleh Aristoteles disebut sebagai akrasia (kelemahan moral), yang mengatakan, bahwa dapat saja seseorang berpengetahuan soal kebajikan, akan tetapi perbuatannya tetap jahat. Dalam pandangan Platon yang nantinya akan meneruskan pandangan Sokrates tentang keutamaan, akan terlihat bahwa pengetahuan yang dimaksud bukanlah pengetahuan objektif yang diandaikan dapat di’transfer’ tanpa pengorbanan, melainkan pengetahuan subjektif hasil purifikasi kehidupan. Jadi, manakala seorang doktor alumni universitas bergengsi yang lulus dengan status cum laude, tetapi akhirnya terbukti melakukan tindakan buruk, berarti ia lebih tidak berpengetahuan dibandingkan petani (diandaikan di sini tidak/minim pendidikan formal) yang mempraktikan kejujuran dalam keseharian. Bagaimana mungkin? Di sini kita akan berhadapan dengan pengetahuan yang subjektif, bukan objektif yang dapat di’transfer’, tanpa sang subjek terlibat, bahkan mempurifikasikan diri di hadapan sang pengetahuan. Oleh sebab itulah, filsafat Sokrates, dan Platon menolak akrasia.

 

 

 

KEUTAMAAN SEBAGAI KEBAHAGIAAN

Akhirnya, Sokrates berkeyakinan, bahwa hidup berkeutamaan merupakan tujuan utama terbaik setiap manusia. Ia berpikir bahwa tidaklah memungkinkan seorang yang diupnya bahagia, memiliki moralitas yang buruk. Keyakinan ini tersurat secara terang dalam Apologia,

“Aku tidak pernah melakukan apapun selain meyakinkan kalian semua, bahwa janganlah kalian berpikir terlebih dahulu tentang harta benda, dan manusia, akan tetapi pertama, dan terutama perhatikanlah jiwa mu yang agung itu! Aku katakan padamu, bahwa keutamaan tidak datang dari uang, akan tetapi uang dapat hadir dari keutamaan, selain itu dari keutamaan pula yang nantinya menghadirkan manusia – manusia berkeutamaan lainnya, hingga akhirnya melahirkan massa rakyat berkeutamaan”

Inilah tugas kaum filsuf, untuk menelanjangi kekeliruan – kekeliruan kehidupan, dan membawa massa rakyat pada kebaikan sejati, serta membantu mereka mencapai cita – cita setiap umat manusia, yaitu kebahagiaan sejati yang dalam bahasa Yunani dikenal sebagai eudaimonia, yang berarti bersama yang ilahi.

No comments:

Post a Comment

Pages