PANDANGAN ETIKA SOKRATIK
Perioda
selama Sokrates hidup seringkali dikatakan oleh sejarawan sebagai zaman
keemasan Athena. Pada tahun 480 SM, Bangsa Yunani telah mengalahkan Bangsa
Persia secara meyakinkan pada Pertempuran Salamis. Karenanya pada perioda
tersebut, situasi Athena dilimpahi kemakmuran, dan perdamaian, hingga akhirnya
melahirkan kultur adiluhung yang dapat kita lihat pada karya – karya seni dari
periode tersebut, suatu masa yang belum pernah dirasakan oleh Bangsa Yunani sebelumnya.
Pada perioda keemasan inilah sosok Sokrates muncul di tengah – tengah publik
Yunani, dan pada perioda ini juga Sokrates dihukum mati.
Sokrates
terlahir pada sekitar tahun 470 SM. Ayahnya, Sophroniskos merupakan seorang
pematung, sedangkan ibunya, Phaenarete berprofesi sebagai dukun beranak. Pada
masa mudanya, Sokrates sempat berkeinginan untuk meneruskan pekerjaan ayahnya
sebagai pematung. Sokrates menikah dengan Xanthippe, yang kerap kali
digambarkan sebagai seorang perempuan yang cerewet. Melalui pernikahannya,
Sokrates dikaruniai tiga orang putera, Lamprokles; Sophorniskos; dan Menexos.
Sokrates dapat dikatakan bukanlah figur ayah, dan suami yang ideal, karena
kesibukannya untuk mencari kebijaksanaan, ia kerapkali mengabaikan
kesejahteraan finansial keluarganya.
Formasi
pendidikan filsafat Sokrates didapatkan dari Anaxagoras, yang mana merupakan
salah satu filsuf Yunani awal yang ternama. Pada awalnya Sokrates berminat
untuk mendalami kosmologi (studi tentang keteraturan semesta), akan tetapi pada
akhirnya ia meninggalkan fokusnya pada bidang kosmologi dalam rangka
menceburkan diri sepenuhnya ke bidang etika. Ia mengklaim dirinya kemudian
sebagai ‘lalat pengusik’ yang memprovokasi publik Athena untuk menyadari bahwa
mereka tidak mengetahui bahwa landasan moral yang mereka gunakan lemah. Metode
dialektika yang dikembangkan Sokrates ini terang tidak disukai oleh kebanyakaan
warga Athena, hingga akhirnya Sokrates berikhtiar untuk mengembangkan metode
dialektikanya dalam rangka mendidik kaum muda idealis Athena sebagai muridnya.
Adalah Platon, misalnya, pemuda aristokrat tinggi yang menjadi murid setianya,
yang kelak dikemudian hari mengembangkan lebih jauh filsafat Sokrates.
Pengaruhnya dikalangan kaum muda idealis Athena segera mendatangkan murka bagi
para petinggi politik di sana. Pada tahun 399 SM, Sokrates diajukan ke
pengadilan polis karena dianggap bertindak subversif dengan tuduhan proliferasi
paham atheisme, dan dianggap menginsinuasi kaum muda Athena dengan pengaruh
buruk (diajarkan untuk mempertanyakan segalanya).
SOKRATES
DAN KARYA – KARYANYA
Penting
untuk diingat, bahwa Sokrates tidak pernah menuliskan karyanya sendiri. Hampir
seluruh pengetahuan kita tentang hidup, dan karyanya didapatkan dari kesaksian
– kesaksian catatan orang yang hidup sezaman dengan Sokrates, utamanya, Platon;
Xenophon; dan Aristophanes. Salah satu hal yang membuat kita merekonstruksi
pemikiran, dan kisah hidup Sokrates adalah karena kerap kali ditemukan
kontradiksi pada catatan – catatan tentangnya. Dalam Nephelai (Awan – Awan),
misalkan Aristophanes menggambarkan sosok Sokrates sebagai sofis yang begitu
buruk moralitasnya, dan seorang atheis. Sedangkan di lain sisi, Platon, dan
Xenophon menggambarkan Sokrates sebagai sosok layaknya santo, dan martir.
Kesulitan
lainnya dalam merekonstruksi pemikiran filsafat Sokrates adalah bahwa sumber
terpercaya yang kita ketahui tentang pemikiran filsafatnya adalah dialog –
dialog Platon, yang mana Platon sering menggunakan tokoh Sokrates untuk
menjelaskan konsep filsafat yang memang berasal dari Sokrates sendiri, dan juga
konsep – konsep dari Platon sendiri.
Kita
harus jeli dalam membedakan mana Sokrates historis, dan mana Sokrates fiksi
dalam karakter Sokrates yang digambarkan dalam beberapa karya orang – orang
lain. Kebanyakan peneliti mengatakan, bahwa Sokrates yang dihadirkan dalam
dialog – dialog awal Platon (Euthuphrōn, Crito, dan Apologia) sangatlah mirip
dengan Sokrates historis. Tokoh Sokrates dalam dialog – dialog tersebutlah yang
biasanya menjadi acuan jika kita ingin mempelajari pemikiran filsafatnya.
KETIDAKTAHUAN
DAN IRONI SOKRATIK
Dalam
Apologia, pemikiran filsafat Sokrates diilustrasikan dalam bentuk dialog –
dialog. Ketika itu, seorang teman Sokrates, Khaerephon pergi ke Kuil Apollo di
Delphi, dan bertanya kepada orakel di sana tentang, adakah seorang yang lebih
bijaksana dari Sokrates. Orakel tersebut bertanya kepada Apollo, yang menjawab
tidak ada orang yang lebih bijaksana daripada Sokrates. Ketika mendengar cerita
ini, Sokrates mengunjungi orang – orang yang terkenal bijak di Athena,
politisi; penyair; dan pengerajin. Yang ia dapatkan dari penelusuran itu adalah
fakta, bahwa mereka yang mengklaim diri mereka bijaksana, ternyata hanya
memiliki sedikit kebijaksanaan. Sokrates menyimpulkan, bahwa perkataan orakel
tersebut benar adanya, bahwa ia lebih bijaksana ketimbang massa rakyat
kebanyakan, karena ia tahu bahwa ia tidak tahu apa – apa, sedangkan orang lain
tidak.
Hal
ini mengafirmasi langkah awal Sokrates dalam berfilsafat, yaitu ketidaktahuan.
Dalam dialog – dialog awal Platon, Sokrates selalu mendefinisikan dirinya
sebagai seorang yang tidak tahu tentang topik yang ia diskusikan, karenanya dia
bertanya kepada orang lain. Menghadapi sosok seperti ini kita akan dilanda
kebingungan, sosok seperti apakah Sokrates sesungguhnya? Sosok yang
mengafirmasi ketidaktahuan menjadi sebentuk relativisme (kepercayaan bahwa
tidak terdapat kebenaran objektif), dan/atau skeptisisme (kepercayaan bahwa
kebenaran sesungguhnya tidak dapat diketahui); ataukah Sokrates memang
membutuhkan jawaban dari pihak yang ditanya. Sokrates sering kali disebut
sebagai seorang yang ironis, dan metode dialektikanya juga kerap disebut
sebagai intellectual gimmick, apa pasal? Sokrates umumnya berpura – pura tidak
tahu ketika menanyakan suatu topik kepada orang lain, agar orang lain tersebut
membuat klaim moral, lalu Sokrates menunjukkan cacat – cacat dalam klaim moral
lawan bicaranya, dan akhirnya Sokrates menunjukkan betapa sedikit pengetahuan
lawan bicaranya tentang topik yang didiskusikan.
METODE
BERFILSAFAT SOKRATES
Dalam
dialog – dialog awal Platon, metode argumentasi yang digunakan Sokrates dikenal
dengan istilah elenchos (examination), yang terjemahan bebasnya dapat dikatakan
sebagai pengujian. Dalam dialog – dialog tersebut, kita jarang menemukan
Sokrates yang mengajar, atau menjawab secara langsung pertanyaan yang diajukan
lawan bicaranya, malahan kita menemukan bahwa Sokrates seringkali mengajukan
pertanyaan – pertanyaan kepada lawan bicaranya untuk menuntun secara tidak
langsung kepada kebenaran.
Umumnya
Sokrates akan mengajukan pertanyaan pada seseorang yang mengaku
dirinya/dianggap bijaksana, lalu mempertanyakan topik terkait moralitas, misalnya
landasan kesalehan; persahabatan; dan/atau keadilan. Kemudian Sokrates akan
mulai menunjukkan, bahwa definisi yang diberikan lawan bicaranya tidak memadai,
atau bahkan penuh kontradiksi. Hal ini mengarahkan lawan bicaranya untuk
menjawab dengan definisi – definisi lainnya, yang mana lebih memadai (lebih
rasional), yang juga nantinya akan dipermasalahkan kembali oleh Sokrates.
Hampir seluruh dialog – dialog awal Platon berakhir tanpa kesimpulan, dengan
lawan bicara yang diinterogasi oleh Sokrates.
Jadi,
apakah kegunaan dari metode elenchos, jika setelah dihujani pertanyaan oleh
Sokrates, lawan bicaranya menjadi lebih bingung ketimbang awal percakapan?
Metode Sokratik ini mempunyai sisi negatif, dan positifnya. Sisi negatifnya,
Sokrates memojokkan lawan bicara, menelanjangi argumennya, hingga argumen lawan
bicaranya tidak dapat dipertahankan. Sisi positifnya, adalah dengan menggunakan
metode elenchos, Sokrates mencoba memurnikan seluruh konsep moralitas, hingga
akhirnya mendekati eidos (definisi universal), yang dapat kita gunakan sebagai
pengetahuan moralitas yang pasti. Ketika kita berpengetahuan pasti ini,
diandaikan oleh Sokrates dengan sendirinya kita akan berbahagia.
KEUTAMAAN
ADALAH PENGETAHUAN
Tema
pokok metode filsafat Sokrates selalu berhubungan dengan etika. Sokrates
berkeyakinan, ketika seseorang berpengetahuan tentang ‘kebaikan’, maka dengan
sendirinya ia akan berbuat baik. Begitu juga dengan tema – tema moralitas
lainnya, ketika seseorang mengetahui maksud dari ‘keberanian’; ‘mawas – diri’; ‘keadilan’,
maka secara otomatis ia akan berkelakuan seperti itu.
Konsekuensinya,
seluruh kejatahatan dalam cakrawala pemikiran Sokrates pastilah disebabkan oleh
ketidaktahuan. Menurut Sokrates, tidak seorangpun yang berpengetahuan salah, melakukan
hal benar. Dapatkah kita membayangkan seseorang berkata, “Saya tahu apa yang
saya lakukan merupakan kesalahan, dan kejahatan, akan tetapi saya tetap
melakukannya.”? Dalam keseharian, kita seringkali menemukan seorang yang
melakukan tindak kejahatan, berpikir bahwa apa yang dilakukannya merupakan
suatu kebaikan.
Sokrates
tidak akan pernah menerima pendapat yang oleh Aristoteles disebut sebagai
akrasia (kelemahan moral), yang mengatakan, bahwa dapat saja seseorang
berpengetahuan soal kebajikan, akan tetapi perbuatannya tetap jahat. Dalam
pandangan Platon yang nantinya akan meneruskan pandangan Sokrates tentang
keutamaan, akan terlihat bahwa pengetahuan yang dimaksud bukanlah pengetahuan
objektif yang diandaikan dapat di’transfer’ tanpa pengorbanan, melainkan
pengetahuan subjektif hasil purifikasi kehidupan. Jadi, manakala seorang doktor
alumni universitas bergengsi yang lulus dengan status cum laude, tetapi
akhirnya terbukti melakukan tindakan buruk, berarti ia lebih tidak
berpengetahuan dibandingkan petani (diandaikan di sini tidak/minim pendidikan
formal) yang mempraktikan kejujuran dalam keseharian. Bagaimana mungkin? Di
sini kita akan berhadapan dengan pengetahuan yang subjektif, bukan objektif
yang dapat di’transfer’, tanpa sang subjek terlibat, bahkan mempurifikasikan
diri di hadapan sang pengetahuan. Oleh sebab itulah, filsafat Sokrates, dan
Platon menolak akrasia.
KEUTAMAAN
SEBAGAI KEBAHAGIAAN
Akhirnya,
Sokrates berkeyakinan, bahwa hidup berkeutamaan merupakan tujuan utama terbaik setiap
manusia. Ia berpikir bahwa tidaklah memungkinkan seorang yang diupnya bahagia,
memiliki moralitas yang buruk. Keyakinan ini tersurat secara terang dalam
Apologia,
“Aku
tidak pernah melakukan apapun selain meyakinkan kalian semua, bahwa janganlah
kalian berpikir terlebih dahulu tentang harta benda, dan manusia, akan tetapi
pertama, dan terutama perhatikanlah jiwa mu yang agung itu! Aku katakan padamu,
bahwa keutamaan tidak datang dari uang, akan tetapi uang dapat hadir dari
keutamaan, selain itu dari keutamaan pula yang nantinya menghadirkan manusia –
manusia berkeutamaan lainnya, hingga akhirnya melahirkan massa rakyat
berkeutamaan”
Inilah
tugas kaum filsuf, untuk menelanjangi kekeliruan – kekeliruan kehidupan, dan
membawa massa rakyat pada kebaikan sejati, serta membantu mereka mencapai cita
– cita setiap umat manusia, yaitu kebahagiaan sejati yang dalam bahasa Yunani
dikenal sebagai eudaimonia, yang berarti bersama yang ilahi.

No comments:
Post a Comment